Yewangoe : Jusuf Kalla memiliki ikatan emosional dengan PGI


GTM MAMASA--Keberagaman agama, budaya, dan kepercayaan yang dimiliki bangsa Indonesia adalah kekuatan bangsa yang tidak perlu dipertentangkan. "Kita bersyukur, negeri kita dikaruniai keberagaman yang memperkuat bangsa ini," kata mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla di hadapan ribuan peserta Sidang Raya XV Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI) di Mamasa, Sulawesi Barat, Senin (23/11) pagi.

Kedatangan Kalla, disambut hangat ribuan peserta, dengan untaian lagu daerah Sulawesi Selatan Angin Mamiri dan slogan Lebih Cepat, Lebih Baik. Turut mendampingi Kalla, Gubernur Sulawesi Barat, Anwar Saleh dan Bupati Mamasa dan Obednego Depparinding.

Kalla yang didaulat membawa materi yang bertajuk "Perdamaian" mengatakan, semua agama memiliki tujuan yang sama, yaitu untuk mencapai keselamatan. Inti dari agama, lanjutnya, adalah perdamaian dan kemakmuran. "Tidak ada satu pun agama yang meminta celaka, dan itu suatu tujuan atau cara kita, sebagai umat beragama untuk mencapai keselamatan dunia, dan akhirat," tegasnya. Apabila, semua pemeluk agama menyadari akan hal ini, tidak perlu ada konflik antar umat beragama.

Sementara itu, Ketua Umum PGI, Pdt Andreas Yewangoe, mengatakan, Jusuf Kalla memiliki ikatan emosional dengan PGI. Mantan wakil presiden ini lebih mementingkan relasi-relasi kemanusiaan, ketimbang hubungan-hubungan protokoler. Relasi ini yang juga yang telah mendasari kegiatan-kegiatan untuk mengambil prakarsa dalam upaya-upaya perdamaian di Poso, Ambon, dan Aceh. "Bapak (Jusuf Kalla, Red) adalah seorang negarawan, yang tahu mempergunakan kekuasaannya," kata Yewangoe.

PDT. DR. AA YEWANGOE TERPILIH KEMBALI SEBAGAI KETUM PGI PERIODE 2009-2014DALAM SIDANG RAYA VX DI MAMASA


GTM MAMASA --Dari arena SR PGI XV di Kabupaten Mamasa – Sulbar di kabarkan, Pdt Dr AA Yewanggoe terpilih kembali menjadi Ketua Umum (Ketum) MPH PGI 2009-2014. Dengan dukungan 71 suara (satu sinode satu suara, red), Pdt Yewanggoe yang mendapat rekomendasi Gereja Kristen Sumba (NTT) ini, unggul atas Pdt HBL Mantiri, usungan Gereja Sidang Jemaat Allah (GSJA).
Posisi Sekretaris Umum (Sekum) dijabat Pdt Dr Gomar Gultom dari Huria Kristen Batak Protestan (HKBP). Gultom berhasil mengungguli Pdt Dr Daniel dari Gereja Kristen Indonesia (GKI). Sedangkan di posisi wakil sekretaris terjadi persaingan tiga hamba Tuhan dari Sulut. Pdt Lies Makisanti yang direkomendasi Gereja Protestan Indonesia (GPI) terpilih mengungguli Pdt Decky Lolowang MTh (GMIM) dan Pdt Manuel Raintung dari Gereja Protestan Indonesia bagian Barat (GPIB).

Sedangkan Pdt Kumala Setiabrata, tetap dipercayakan sebagai Bendahara Umum. Dia dibantu wakil bendahara Rafly Tamburkan SE mewakili Gereja Kristen Oikumene (GKO).

Sementara Pdt. USK Wijayaputra ( Ketua Sonode GTM ) sekali Tuan rumah Sidang Raya PGI XV terpilih sebagaisalah satu Ketua Majelis Pekerja Harian Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (MPH PGI )

Selengkapnya untuk unsur ketua masing-masing Pdt Dr Henriete Lebang (Gereja Toraja), Pdt Dr Karel Erari (Gereja Kristen Injili Papua), Pdt USK Wijayaputra (GTM) dan Pnt Ir Roy Roring. Anggota-anggota Pdt Dr Zakaria Ngelow (Gereja Kristen Sulawesi Selatan), Pdt Lies Marantika (Gereja Protestan Maluku) dan Pdt I Made Priana (Gereja Kristen Protestan Bali). Sampai berita ini ditulis, sidang raya masih mendengarkan hasil rumusan seksi

Kalla Bicara Perdamaian di Sidang Raya PGI


GTM Mamasa -- Mantan Wakil Presiden Mohammad Jusuf Kalla menghadiri Sidang Raya (SR) XV Persatuan Gereja Indonesia (PGI) di Kabupaten Mamasa, Sulawesi Barat, Senin, 23 November 2009.
Acara yang dipusatkan di Gedung Aula Toraja-Mamasa tersebut, Kalla JK diberikan kesempatan menyampaikan sambutan selama satu jam lebih
.


Menurut staf Kalla, Yadi Jentak, mantan Wapres tersebut berangkat sekitar pukul 09:00 Wita, dengan menggunakan helikopter. Ia didampingi oleh Gubernur Sulawesi Barat, Anwar Adnan Saleh serta Bupati Mamasa, Obed Nego Depparinding.

"Pak JK berada di Mamasa sekitar dua jam, dan kembali sekitar pukul 13:00 Wita siang ini juga," kata Yadi kepada VIVAnews, beberapa saat lalu.

Ia menambahkan, JK diundang khusus oleh panitia Sidang Raya PGI, untuk berbicara tentang perdamaian dihadapan seluruh peserta yang berasal dari seluruh Indonesia itu.

Mereka menganggap, JK merupakan tokoh bangsa yang berhasil mendamaikan sejumlah konflik di Indonesia, antara lain konflik Poso, Ambon serta perdamaian Aceh. "Atas dasar itu panitia mengundang Pak JK," tuturnya.

Sementara itu, informasi yang dihimpun VIVAnews, pelaksanaan Sidang Raya XV PGI se-Indonesia dipusatkan di Mamasa, Sulawesi Barat.
Kegiatan tersebut dibuka oleh Menteri Perhubungan Fredy Numberi kamis lalu. Fredy hadir mewakili Presiden SBY, yang tidak sempat hadir pada kegiatan tersebut. Acara tersebut akan berakhir Selasa besok.

Sebanyak 1.068 peserta hadir dalam kegiatan tersebut. Mereka berasal dari 88 perwakilan gereja atau sinode yang ada di Indonesia. Pada acara yang juga dirangkaikan dengan pergantian pimpin PGI itu, mengambil tema "Tuhan itu baik bagi semua orang," Tema tersebut diambil dari kitab suci umat kristen. ( mamasa-online.blogspot.com )

Jangan Hambat Pendirian Rumah Ibadah

GTM-- Perundang-undangan maupun peraturan yang berbau syariah mulai mendapat penolakan dari internal Islam. Ini karena banyak menilai, dengan ditetapkannya peraturan tersebut tidak memberi kontribusi besar bagi perubahan Indonesia. ‘’Umat Kristen tidak usah takut. Perundang-undangan maupun peraturan yang berbau syariah telah ‘aborsi’ di tengah jalan. Di kalangan internal Islam telah terjadi penolakan,’’ kata salah satu petinggi PP Muhammadiyah Dr Abdul Mu’ti ketika tampil sebagai salah satu panelis membahas sub tema PGI, dalam Sidang Raya XV PGI di Mamasa, Sulawesi Barat, Jumat (20/11) kemarin.

Pernyataan ini disampaikan penulis buku Kristen Muhammadiyah ini kemudian mencontohkan sikap penolakan pemberlakuan Syariat Islam di Aceh. Di samping itu reaksi-reaksi di daerah-daerah lain. ‘’Sekarang muncul pemikiran di kalangan orang Islam bahwa untuk membuat bangsa Indonesia lebih baik tidak hanya melalui peraturan berbau syariah. Tetapi untuk membuat Indonesia lebih baik, rakyat harus sejahtera,’’ ujarnya.
Abdul Mu’ti tampil bersama Tonnya Waworuntu dan Lodewyk Gultom. Mereka membahas sub tema PGI; Bersama-sama seluruh komponen bangsa mewujudkan masyarakat majemuk Indonesia yang berkeadaban, inklusif, adil, damai dan demokratis.’
Ustad Mu’ti yang di kalangan interfaith (lintas agama) sering dipanggil pendeta Muhammadiyah ini mengakui, agama Kristen, Islam, dan Yahudi merupakan agama samawi yang memiliki banyak persamaan. Bahkan dia merinci tentang bagaimana pandangan Nabi Muhammad terhadap orang Kristen. Namun, dia mengakui masih ada hal-hal yang membuat terjadinya pertentangan.
Ini terjadi katanya, karena ada perbedaan visi dalam mengamati dan melihat realitas agama pluralis. Karena itu perlu dibangun sikap pluralisme positif. ‘’Maksudnya, toleransi beragama tidak cukup. Tapi perlu ada pluralisme positif tanpa mencampuradukkan agama (sinkretisme, red). Juga tidak bersifat relativitas dan paralelisme,’’ urainya.
Sebelumnya Tonnya Waworuntu mengingatkan kembali gereja-gereja anggota PGI untuk terus memantapkan gerakan oikumene yang bertujuan untuk mewujudkan gereja Kristen yang esa di Indonesia. Namun , dia mengingatkan gerakan oikumene ini bukan dalam bentuk struktur.
Sidang Raya PGI yang akan berakhir pada 24 November ini bertujuan untuk mendengarkan laporan pertanggungjawaban MPH PGI, menyusun pokok-pokok program dan memilih MPH PGI periode pelayanan 2010-2014 (mdopost.com)

Gereja Jangan Terus Berpikir Untuk Kepentingan Sendiri

Gereja jangan terus berpikir untuk kepentingan dirinya sendiri. Tapi gereja harus memelopori suatu gerakan kebersamaan sekaligus mencari solusi untuk kepentingan bangsa.

Pesan ini disampaikan Ketua KWI yang diwakili Uskup Banjarmasin Mgr Dr Petrus Boddeng Timang ketika memberikan salam dalam pembukaan Sidang Raya XV Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI) di lapangan Mamasa, Kabupaten Mamasa Provinsi Sulawesi Barat (Sulbar), kemarin (Kamis, 19/11) pukul 09.30 Wita.
Mgr Timang mengakui, gereja, termasuk di dalamnya anggota PGI mempunyai peran yang besar bersama elemen bangsa lainnya untuk mengatasi problem bangsa.
Acara pembukaan sangat meriah. Panitia menyiapkan paduan suara raksasa yang melibatkan 1.500 anggota, tarian kolosal yang diikuti 500 penari serta musik bambu. Tidak itu saja, mulai dari panggung utama sampai di tenda peserta dihiasi dengan ornamen-ornamen adat Toraja Barat yang sudah dipengaruhi budaya Mandar dan Bugis.
Sebelumnya Ketua Umum Sinode Gereja Mamasa Toraja (GTM) Pdt USK Wijayaputra dalam khotbah pembukaan banyak mengkritiki peran gereja sekarang. Dia mengawali khotbahnya dengan memberi ilustrasi tentang adanya jemaat yang suka memelihara ayam aduan. Menurutnya, setiap pemilik ayam tersebut merasa ayam aduannya yang paling jago. Karena itu dia dikurung dan dirawat dengan baik. ‘’Gereja juga seperti itu. Kita membuat Tuhan kita menjadi Tuhan yang siap diadukan. Bahkan kita mengurung Tuhan untuk kepentingan sendiri dan menganggap Tuhan kita yang paling jago,’’ katanya.
Gereja juga lanjutnya, sering terjebak pada dukung mendukung jagoan. ‘’Makanya, berhenti mengadu Tuhan. Sebab Allah yang kita sembah adalah Allah dari suku, agama, ras dan golongan lain,’’ tegasnya sambil mengutip bacaan dalam Kitab Roma 3:29 yang menyebutkan, Allah yang disembah bukan Allah Yahudi, tapi Allah bangsa-bangsa.
Padahal lanjut Pdt Wijayaputra, Tuhan itu baik bagi semua orang. ‘’Tuhan baik bagi orang yang tidak baik. Tuhan baik bukan saja bagi orang miskin, tapi juga orang kaya. Tuhan baik bagi pejabat maupun politisi yang dizolimi. Karena itu mari kita berbuat baik bagi semua orang karena Tuhan kita baik,’’ ajaknya.
Di sisi lain, harapan untuk mewujudkan gereja kristen yang esa di Indonesia mendapat tanggapan positif Persekutuan Gereja Pantekosta Indonesia (PGPI) dan Persekutuan Gereja dan Lembaga Injili Indonesia (PGLII). Ketua Umum PGLII Pdt Nus Remas ketika memberikan pesan, mengakui dalam dua tahun terakhir ini, PGI, PGPI dan PGLII terus melakukan pertemuan membicarakan mengenai gerakan oikumene antar gereja.
Lanjutnya, pada 2020 nanti telah disepakati melaksanakan kegiatan bersama yang melibatkan seluruh gereja di Indonesia. ‘’Bless Indonesia 2020 diharapkan akan semakin menunjukkan gereja adalah garam dan terang dunia yang komitmen memberantas masalah moral, karena gereja harus memberi nilai yang benar,’’ ujarnya yang disambut tepukan riuh 1.086 peserta sidang raya dari 85 gereja anggota PGI.
Sementara itu, Ketua Umum Majelis Pekerja Harian (MPH) PGI Pdt Dr AA Yewanggoe menegaskan, tidak boleh ada agama di Indonesia yang mengklaim Allah miliknya. ‘’Masyarakat gereja adalah masyarakat majemuk, karena itu gereja harus mampu menempatkan dirinya sebagai gereja yang inklusif, karena Allah yang kita sembah adalah Allah bangsa Indonesia,’’ katanya.
Dia juga mengingatkan gereja untuk tidak terkontaminasi dengan kepentingan politik praktis. ‘’PGI akan memberikan dukungan kepada pemerintah yang berpihak pada kepentingan rakyat,’’ tegasnya.
Pembukaan SR XV PGI ini mendapat perhatian pemerintah pusat. Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono secara khusus mengirimkan Menteri Perhubungan Freddy Numberi. Begitu juga dengan kehadiran Dirjen Bimmas Kristen Protestan Jason Lasse yang mewakili Menteri Agama karena mendadak harus berangkat ke Arab Saudi untuk mengurus calon jamaah haji Indonesia.(tas) (http://mdopost.com)

Tuhan Baik Bagi semua orang

GTM--Sidang Raya kali ini bertema “Tuhan itu baik bagi semua orang” (Mazmur 145:9a), dan akan berlangsung hingga 24 November. Yang menarik dari perhelatan kali ini antara lain sidang diadakan di daerah terpencil dengan fasilitas seadanya. Para peserta pun—yang umumnya adalah para pemimpin dari 88 sinode gereja anggota PGI dari seluruh Indonesia—diinapkan di rumah-rumah jemaat selama mengikuti persidangan.
Menurut Ketua Umum PGI Pdt Dr AA Yewangoe, hal itu menunjukkan bahwa kehidupan bergereja itu berakar dalam jemaat. “Oleh sebab itu, kami atas nama PGI mengucapkan terima kasih sedalam-dalamnya kepada jemaat Gereja Toraja Mamasa. Ini suatu tanda bahwa kehidupan bergereja itu memang berakar di dalam warga,” katanya, seperti dilaporkan Markus Saragih dari majalah Berita Oikumene kepada SH dari Mamasa, Rabu (18/11).
Yewangoe meminta para peserta bisa membaur dan menyesuaikan diri dengan warga dan tidak berharap kemewahan, serta bisa saling bertukar pengalaman soal kehidupan bergereja.
PGI memilih Mamasa sebagai lokasi SR XV sebagai pelaksanaan mandat dari Keputusan SR PGI XIV di Wisma Kinasih, Sukabumi, lima tahun lalu. Tuan rumah kali ini adalah Gereja Toraja Mamasa (GTM) dan Pemerintah Daerah Kabupa­ten Mamasa, didukung Guber­nur Sulbar Anwar Adnan Saleh.
Kabupaten Mamasa terletak 225 km dari Makassar (6-10 jam perjalanan dengan mobil), berpenduduk sekitar 125.000 jiwa, adalah pemekar­an dari Kabupaten Polewali Mamasa pada tahun 2002.
Pemekaran itu sendiri sempat memicu konflik antarkelompok masyarakat yang menolak atau mendukung bergabung dengan daerah pemekaran, namun diyakini situasinya kini sudah mereda. Sekitar 65 persen penduduk pemeluk agama Kristen dan GTM menjadi denominasi gereja terbesar di wilayah itu. GTM mempunyai sekitar 100.000 anggota, yang diatur dalam 490 kongregasi, dan 101 pendeta. GTM juga menjalankan sebuah rumah sakit dan sekitar 20 sekolah.
Melalui Sidang Raya ini, Yewangoe berharap jemaat GTM makin membuka diri, dan diharapkan juga akan berdampak positif bagi umat lainnya. Dengan adanya sidang ini, pemerintah pusat pun diharapkan akan memberi perhatian pada kemajuan Mamasa.
Harapan yang sama datang dari pemerintah setempat. “Semoga melalui sidang ini Mamasa diperhatikan Peme­rintah Pusat sehingga dapat makin maju, dan kehidupan antarumat beragama di sini bisa membaik,” kata Bupati Mamasa Obednego Dep­parin­ding. Mamasa termasuk daerah yang terkena imbas konflik.

Presiden Tak Hadir
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Wakil Presiden Boediono dipastikan tidak hadir untuk membuka ataupun memberi sambutan dalam SR PGI XV ini.

Padahal, pada beberapa sidang raya sebelumnya Presiden atau Wakil Presiden biasanya hadir untuk membuka atau memberi sambutan. Kali ini Menteri Perhubungan Freddy Numberi yang ditugasi Presiden memberikan sambutan mewakili pemerintah.
Namun, kedatangan Menhub dengan helikopter menimbulkan insiden yang memicu kemarahan warga/jemaat yang telah lebih dari tiga jam menunggu kedatangannya di lapangan. Insiden itu terjadi saat helikopter mendarat di dekat lapangan upacara sehingga menimbulkan debu dan menerbangkan tenda.
Akibatnya, lebih dari seribu warga yang hadir marah dan melempar-lemparkan kursi. Namun, untunglah kemarahan ini tidak memicu insiden lebih lanjut dan warga yang marah berhasil ditenangkan panitia.
Pagi ini SR PGI XV sudah dibuka oleh Ketua Umum PGI Pdt Andreas Yewangoe.
Menanggapi ketidakhadiran Presiden, Direktur Utama Institut Leimena—sebuah lembaga kajian, Jacob Tobing, mengatakan, hal ini bukanlah pertanda bahwa hubungan gereja dan pemerintah kurang baik. “Saya lebih melihat lokasi di Mamasa baik untuk gereja, namun secara protokoler dan teknis agak sulit bagi pejabat negara itu untuk hadir,” ujar Jacob, mantan politisi senior yang pernah menjadi Dubes RI untuk Korea Selatan ini.
Bahkan, lanjutnya, hal ini juga menjadi tantangan bagi warga gereja agar ke depan lebih membangun hubungan yang lebih substansial dan bukan seremonial dengan pemerintah. Dia juga mengajak warga gereja tidak sibuk mengasihani diri sendiri atas berbagai perlakuan diskriminatif yang dialami selama ini.
“Itu semua adalah salib yang memang harus dipikul, namun lebih baik hal itu tidak terlalu dipikirkan, serta bersama yang lain baiknya meneruskan perjuangan mengatasi kemiskinan dan keterbelakangan. Gereja dan warga gereja harus mengembangkan sikap positif,” kata Jacob, dalam percakapan telepon dengan SH, Kamis pagi.
Agenda utama SR XV PGI meliputi pembahasan laporan Majelis Pekerja Harian (MPH) PGI 2004-2009, penetapan dokumen keesaan Gereja (DKG) atau Pokok Tugas Panggilan Bersama (PTTB), Penetapan Amendemen Tata Dasar/Tata Rumah Tangga, serta memilih Majelis Pekerja Harian periode 2009-2014.
Saat ini ada sejumlah nama yang mengemuka, yakni Pdt Dr Andreas Yewangoe, Pdt Dr Richard Daulay (Sekretaris Umum PGI 2004-2009), Letjen (purn) HBL Mantiri (calon yang diutus Sinode Gereja Sidang Jemaat Allah), Pdt Dr Ishak P Lambe (mantan Sekum PGI 1999-2004), Pdt Gomar Gultom, Pd Dr Daniel Susanto, dan Pdt Dr Erick J Barus.
Sejumlah agenda yang akan dibahas dalam SR PGI XV ini antara lain Gereja dan Tantangan Pandemi HIV dan AIDS, Gereja dan Pancasila sebagai Ideologi, Gereja dan Pendidikan, serta Arah Perubahan Gereja-gereja di Indonesia. SR juga diisi dengan kegiatan pemahaman Alkitab, kotbah penyegaran iman serta ceramah mengenai tema dan subtema SR XV. (http://www.sinarharapan.co.id )

Pemimpin Masa Depan Harus Rangkul Keberagaman

GTM -- Sidang Raya XV Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia dibuka di Lapangan Sepak Bola Demmatande, Mamasa, Sulawesi Barat, Kamis (19/11), dalam suasana khidmat. Menteri Perhubungan Freddy Numberi, yang mewakili Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, dalam sambutan acara pembukaan mengingatkan, saat ini, dunia, termasuk Indonesia, sedang menghadapi era globalisasi atau lompatan kuantum yang membuat banyak hal menjadi tak berbatas.

”Pemimpin bangsa ke depan adalah pemimpin tanpa batas dan berada dalam keberagaman. Karena itu, kita semua harus merangkul keberagaman ini. Karena, hanya dengan cara seperti ini kita menghadapi bersama lompatan kuantum dan era globalisasi ini dengan segala permasalahannya,” ujarnya

Pada kesempatan serupa, Ketua Majelis Pekerja Harian PGI Pendeta Andreas Aewange menekankan, dengan momentum sidang raya ini, warga gereja diharapkan bisa hidup damai dalam kemajemukan sekaligus menjadi solusi atas berbagai permasalahan bangsa. ”Indonesia adalah negara yang majemuk, baik dalam agama, budaya, bahasa, maupun suku. Warga gereja adalah warga bangsa yang merupakan bagian integral dari NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia). Karena itu, harus bisa menempatkan diri, membangun, memberi ide untuk kehidupan bernegara, dan hidup damai dalam kemajemukan,” katanya (http://cetak.kompas.com )

Sidang Raya PGI di Mamasa di buka oleh menteri Perhubungan



GTM Mamasa--Sidang raya PGI XV di Mamasa telah dibuka pada hari kamis 19 November 2009 oleh Menteri Perhubungan Bapak Preddy Numbery.
Menhub menggantikan menkokesra untuk membuka acara sidang raya yang berlangsung selama sepekan, mulai 19 hingga 24 November. Awalnya, Menkokesra Agung Laksono yang dijadwalkan membuka acara.
Gubernur Sulbar Anwar Adnan Saleh, Bupati Mamasa Obed Nego Depparinding, dan sejumlah pejabat di Sulbar dan Mamasa yang menyambut kedatangan Freddy Numberi untuk pertam kalinya di Mamasa.
Dalam sambutannya, secara umum Freddy berbicara tentang globalisasi, kemajemukan di Indonesia, peranan gereja untuk membangun komunikasi di antara kemajemukan.

Bursa calon Ketua Umum PGI XV di Mamasa

Mamasa--Sidang Raya PGI pada 17-24 November mendatang, bursa calon ketua umum makin semarak. Beberapa tokoh dikabarkan telah mencalonkan diri dan dinominasikan menjadi ketua umum dari persekutuan oikumenis gerejawi ini. Tampil antara lain Pdt. Dr. A. A. Yewangoe, yang kini men-jabat ketua umum PGI. Lalu ada Pdt. Dr. Richard Daulay, yang kini menjabat sekum PGI. Ada juga tokoh nasional Letjen (Purn) HBL Mantiri dan Pdt. Dr. Margaretha Hendriks yang mewakili kelompok perempuan. “Pencalonan mereka legal, karena sudah diusulkan oleh gereja,” kata Pdt. Manuel E. Rain-tung, Sekum PGIW DKI Jakarta.

Meskipun ada banyak agenda yang akan dibahas dalam Sidang Raya ke 15 di Mamasa, Sulawei Barat itu, tapi wacana tentang siapa yang akan menjadi ketua umum PGI sangat terasa menje-lang persiapan ini. Beberapa pera-turan baru pun dirumuskan. Seba-gai contoh, direncanakan, perio-disasi dan batas umur maksimal calon ketua umum tak boleh lebih dari 65 tahun. Pertimbangannya, PGI membutuhkan orang yang energik, baik dari sisi visi maupun ketahanan fisik.

Nah, bila saja rumusan itu digol-kan – tentu dalam Sidang Raya itu, maka dari nama-nama yang ber-edar, hanya Pdt. Daulay saja yang layak. Pasalnya, Letjen HBL Mantiri misalnya sudah berusia 70 tahun, begitu pun AA Yewangoe (di atas 65 tahun) dan Margaretha Hen-driks. Yang tersisa tinggal Pdt. Daulay yang kini masih berumur di bawah 65 tahun. Tapi itu bila rancangan itu disepakati, bila tidak, maka ramailah ajang pemilihan ketua umum.

Sementara di posisi sekjen, ada sudah ada beberapa nama yang dicalonkan atas nama Sinode, tapi ada yang sekadar beredar. Yang sudah dicalonkan resmi adalah Pdt. Daniel Susanto dari GKI. Semen-tara yang beredar dan yang hingga tanggal ini (26/10) belum secara resmi dicalonkan adalah Pdt. Dr. Erick Barus dan Pdt. Gomar Gultom.

Kader oikumenis
Faktor umur, menurut Pdt. Manuel Raintung, memang bisa jadi faktor penting dalam menggelora-kan dinamika organisasi PGI. Lantaran itu, perlu juga para orang muda dilibatkan dalam kepe-ngurusan inti PGI. “Selama ini, terkesan bahwa yang menjadi pengurus PGI itu adalah orang-orang yang sudah tua, atau tidak memegang jabatan di sinodenya sendiri. PGI membutuhkan orang-orang muda yang punya visi oiku-menis,” katanya sembari menam-bahkan bahwa PGI membutuhkan kader oikumenis yang sudah terbiasa berkiprah dalam relasi kegerejaan dan kemasyarakatan. “Dia harus berani membuat sesuatu yang bukan hanya bagi gereja dia, tapi sudah dikenal dan terbukti sebagai tokoh oikumenis” katanya.

Sebagai mantan Sekum PGIW Jawa Timur dan kini sebagai Sekum PGIW DKI Jakarta, Manuel Rain-tung memberanikan diri mengaju-kan diri untuk mengisi posisi Wase-kum PGI. Ia menjabarkan bahwa tugas Sekum adalah dalam hubu-ngan dengan pemerintah dan luar negeri. “Tugas Wasekum adalah menata manajemen PGI dan mem-bina hubungan dengan angota gereja dan persekutuan-perseku-tuan oikumene,” jelas Ketua Alum-ni STT Jakarta yang mengambil master manajemen dalam bidang SDM di Universitas Surabaya ini.

Berwibawa
Siapa pun yang nantinya terpilih sebagai ketua umum, sekjen dan wasekjen, demikian Manuel Raintung, harus memiliki komit-men untuk membenahi Salemba 10, tempat PGI bermar-kas agar menjadi tempat yang berwi-bawa. “Selain gedungnya, kualitas visi juga harus dipertajam agar kehadiran PGI sebegai mitra gereja dan pemerintah itu betul-betul berarti,” tukasnya.
Kini ada 88 Sinode gereja yang bernaung di bawah PGI. Semen-tara jumlah sinode gereja yang tercatat di Bimas Kristen Protes-tan, Departemen Agama RI ada 323 sinode, yang terdiri dari 9 aras gereja. Selain yang sudah ada dan dikenal selama ini, ada juga Perse-kutuan Gereja Mandiri dan Perse-kutuan Gereja Tionghoa. “Mereka punya visi untuk mendekati masya-rakat. Supaya aman, mereka buat aksi diakonia modern di tengah masyarakat. Tentu ditunjang de-ngan kemampuan finansialnya,” jelas Raintung. Paul Makugoru. ( http://www.reformata.com/03089-jelang-sidang-raya-pgi-bursa-calon-ketua-umum-semarak-.html )

GTM Menyongsong Indonesia Baru

Mamasa-- "GTM sebuah gereja yang besar jumlah warga dan bilangan jemaatnya dalam susunan struktur dan kelembagaan yang relatif kokoh, tersebar di pedesaan dan juga di perkotaan, hadir dalam suatu kantong wilayah Kristen, berakar dalam suatu masyarakat yang relatif sama tradisi dan perkembangannya, dan terjalin dalam hubungan kerjasama ekumenis regional maupun global, serta adanya hubungan-hubungan baik dengan pemerintah."
Demikian rangkuman tulisan Pdt. Zakaria J Ngelow mengenai posisi Gereja Toraja Mamasa (GTM) menyongsong era baru, Indonesia Baru. Berikut tulisan lengkap Zakaria J Ngelow yang dibawakan pada kesempatan Pertemuan Pendeta GEREJA TORAJA MAMASAdi Mamasa, 15 September 2000 silam.


Jati Diri dan Panggilan
Gereja Toraja Mamasa (GTM) adalah gereja dan karena itu perlu merumuskan identitasnya pertama-tama sebagai gereja. Gereja bukan saja suatu persekutuan yang dipilih dari dalam dunia melainkan serentak gereja adalah pula persekutuan yang diutus ke dalam dunia. Pengutusan itu untuk menyampaikan Injil, Kabar Baik, atau mendirikan tanda-tanda Kerajaan Allah di tengah-tengah masyarakat, yakni damai sejahtera, keadilan dan persaudaraan. Maka identitas gereja adalah persekutuan yang diberi tanggungjawab untuk (turut) mewujudkan masyarakat ideal di mana semua orang mengalami damai sejahtera, keadilan, dan dalam alam ciptaan yang utuh dan lestari. GTM, dalam arti setiap persekutuan jemaatnya adalah suatu perwujudan penuh gereja Tuhan di dalam dunia.

Maka bagi GTM, identitas bersama semua gereja itu terkait dengan konteks GTM, baik sejarah dan kelembagaannya maupun latar sosial, kebudayaan, ekonomi, politik, dan sebagainya termasuk lingkungan alam masyarakatnya. Artinya, identitas GTM tidak dapat dilepaskan dari berbagai kenyataan di mana jemaat-jemaat GTM hadir menjalankan panggilannya. Konteks GTM di sini perlu difahami baik dalam tingkatan satuan persekutuan dalam struktur persekutuan GTM, mulai dari jemaat sampai sinode, maupun tingkatan satuan struktur administrasi pemerintahan dari RT/dusun sampai kesatuan nasional. Malahan secara teologis, seluruh dunia adalah alamat panggilan / pengutusan GTM. Karena identitas itu maka GTM berkewajiban menjalankan panggilannya mewujudkan masyarakat yang berdamai sejahtera, adil dan alam yang utuh.

Saya ingin menekankan bahwa panggilan gereja bukan terutama (walaupun juga penting) untuk menjalankan ritus: upacara agama, kebaktian, doa, nyanyian atau pemberitaan firman secara verbal (kata-kata), melainkan untuk bekerja bagi kemajuan masyarakat, baik kemajuan akhlak-kepribadian maupun kemajuan sosial dalam bentuk kesejahteraan dan keadilan bagi semua orang. Saya merujuk pada pemberitaan para nabi (Yesaya, Yermia, Amos, dll) yang mengeritik dengan sengit keberagamaan umat Tuhan pada zaman mereka: rajin atau setia melakukan penyembahan, namun akhlak mereka dalam kehidupan sosial bertentangan dengan kehendak Tuhan: penguasa dan pejabat agama bertindak amoral, sewenang-wenang terhadap rakyat kecil, hukum diputarbalik, tidak ada keadilan. Sebab itu pula pengajaran dan teladan Yesus Kristus bukanlah kesalehan ritual melainkan kesalehan sosial: hubungan baik dan perhatian kepada sesama manusia, khususnya melayani mereka yang susah ...

Kesadaran ini makin meluas dewasa ini. Di seluruh dunia bukan saja gereja-gereja tetapi juga lembaga dan penganut agama-agama lain makin terarah pada peran sosial agama membina akhlak kemanusiaan dan membangun masyarakat.


Tiga Agenda
Dengan catatan pengantar di atas, kita kini dapat melangkah pada pembahasan mengenai panggilan konkret GTM dewasa ini. Ada baiknya kita menjabarkan hal ini dalam 3 pertanyaan pokok:

(1) tantangan apa yang dihadapi masyarakat di mana GTM dipanggil melayani (ingatlah konteks lokal sampai nasional dan global)?
(2) peran apa yang perlu dan dapat dijalankan GTM?
(3) kesiapan apa yang perlu dikembangkan (para pendeta) GTM untuk menjalankan peran itu?

Pertama-tama, perlu kita identifikasi bahwa yang kita maksud dengan GTM di sini adalah seluruh jajaran GTM secara kelembagaan dari jemaat sampai sinode. Dalam analisa peran, pentinglah untuk menyadari betapa besar potensi yang tersedia untuk menjalankan panggilan gereja itu.

Pokok pertanyaan pertama mengenai tantangan pelayanan GTM. Dengan mengacu pada konteks sempit GTM sebagai gereja yang hadir di pedesaan dan diperkotaan Sulawesi Selatan, dan yang secara eksklusif merupakan gereja suku masyarakat Toraja Mamasa (termasuk PUS dan Mamuju, yang selanjutnya saya istilahkan Toraja Barat) dapatlah secara umum kita menyatakan bahwa tantangan pokok GTM adalah memajukan manusia dan masyarakat Toraja Barat, termasuk tanggungjawab pengelolaan lingkungan alamnya.

Tema kita, Indonesia Baru, mengandaikan suatu perubahan kualitatif dari Indonesia yang serba kurang ke Indonesia yang serba maju:

* kualitas akhlak dan penguasaan ilmu & teknologi manusia Indonesia --dalam ungkapan saudara-saudara Muslim: imtak dan iptek- (sehingga orang Indonesia mendapat terhormat dalam pergaulan antar-bangsa),
* tingkat ekonomi yang relatif cukup dan merata (krisis ekonomi diatasi, kesenjangan sosial diperkecil),
* rasa damai dan persaudaraan antar semua golongan dan kemampuan meminimalkan konflik (semangat pluralitas menggantikan primordialisme),
* mantapnya pengehargaan HAM dengan penegakan hukum,
* pemerintahan yang stabil dalam tatanan demokrasi yang sehat (sesuai ideal civil society),
* sarana / prasarana kehidupan umum merata di semua daerah, dan tak kurang pentingnya,
* alam dan lingkungan hidup Indonesia terpelihara baik.

Daftar ini masih dapat diteruskan. Tetapi ada dua catatan: (1) Jangan gereja terjebak pada impian "teologi sukses", dan pada pandangan yang memandang perjalanan sejarah sebagai proses otomatis ke arah kemajuan. Panggilan gereja bukan membuat Kerajaan Sorga di bumi, melainkan menampakkan tanda-tanda Kerajaan itu, khususnya bagi mereka yang lemah, miskin, atau tertindas. (2) Cita-cita Indonesia Baru perlu diletakkan dalam konteks aktual masyarakat Toraja Barat, dengan memahami secara mendasar tantangan-tantangannya dan selanjutnya merumuskan pemecahan-pemecahan strategis sebagai acuan untuk penyusunan program.

Pada hemat saya, sedikitnya ada 3 tantangan pokok masyarakat Toraja Barat yang terkait dengan pencapaian cita-cita Indonesia Baru, yakni peningkatan SDM, rekonstruksi sosial, dan peningkatan kesadaran hukum dan HAM. Mengenai SDM, sudah jelas bahwa diperlukan lembaga pendidikan / pembinaan yang bermutu dan merata, mulai pada tingkat dasar sampai menengah, yang memberi kesempatan kepada putera-puteri Toraja Barat memperoleh pendidikan yang baik sampai pada tingkat menengah untuk dapat melanjutkan pada pendidikan tinggi di kota-kota besar. Fasilitas perpustakaan dan laboratorium merupakan kebutuhan pokok bagi pendidikan yang bermutu. Pendidikan formal tentu perlu dilengkapi pendidikan iman / akhlak yang handal supaya mereka tahan uji di perantauan, yang merupakan tanggungjawab gereja. Untuk itu gereja perlu merumuskan pendidikan Kristen yang relvan, yakni yang memperlengkapi warga menghadapi perkembangan dunia moderen. Kita mengimpikan bahwa dengan cara itu akan muncul generasi terpelajar yang merupakan kader-kader handal dalam berbagai bidang dan tingkatan. Dengan sendirinya masyarakat Toraja Barat akan memperoleh manfaat langsung dari adanya kader-kader terpelajar yang tersebar baik di daerah maupun di tempat-tempat lain termasuk yang go international (bukan sebagai TKI/TKW).

Kita pantas menyesali bahwa badan zending yang bekerja di daerah Toraja Barat (ZCGK) dan kemudian gereja tidak memberi perhatian terhadap pendidikan dan transformasi masyarakat sehingga masyarakat di daerah ini sangat ketinggalan, dibandingkan dengan Tana Toraja (GZB) atau Tana Batak (RMG). Dan saatnya kini untuk mengejar ketinggalan itu.

Pengembangan kader terkait langsung dengan penataan ulang satuan-satuan masyarakat Toraja Barat. Generasi muda yang berpotensi muncul dari dalam masyarakat yang utuh. Rekonstruksi sosial merupakan kebutuhan mendasar dan mendesak dalam rangka transformasi masyarakat pedesaan menuju masyarakat industri (untuk kasus Toraja Barat dari masyarakat agraris tradisional ke agro-industry), dan khususnya pula rekonstruksi dalam rangka reformasi nasional setelah semua pengalaman pahit selama masa Orde Baru, bahkan sebelumnya. Pengalaman masyarakat "pedalaman Sulawesi" (Toraja, Mamasa, Luwu, Pamona, Mori, Lore, Kulawi dll) dalam kurun waktu antara 80 - 100 tahun terakhir sangatlah dramatis: kolonialisme, zending, Jepang, Perang kemerdekaan, DI/TII, PERMESTA, Orde Lama, Orde Baru, Reformasi ... Belum lagi pengaruh kebudayaan global yang ditopang teknologi media / informasi canggih seperti koran, radio, TV, dan juga melalui industri turisme!

Pengalaman yang demikian dinamis, bahkan dramatis, dalam tempo yang relatif singkat, memang menggoyahkan sendi-sendi kebudayaan dan tatanan masyarakat kita. Persoalan di sini bukan terutama kembali ke "zaman normal" masa silam, melainkan bagaimana memampukan masyarakat menyesuaikan diri dengan dinamika dan perubahan-perubahan sambil mengontrol arah atau bentuk perubahan-perubahan itu. Saya menulis dalam suatu karangan singkat mengenai "mangaro" di Tandalangan dalam rangka panggilan penataan sosial GTM. Termasuk juga dalam rekonstruksi dan transformasi sosial mengemabngkan kearifan menangani konflik-konflik sosial (dan rekonsiliasi), dan pembinaan masyarakat yang mandiri demi pengembangan demokrasi.

Yang ketiga, juga terkait, yakni pembinaan kesadaran hukum dan HAM, yang merupakan keniscayaan dalam transformasi dan rekonstruksi sosial. Kesadaran hukum dan HAM menunjuk pada keseimbangan hak-hak dan kewajiban-kewajiban dalam hubungan antar-manusia, dan antara manusia dengan alam (HAM menyangkut pula tanggung jawab melestarikan alam sebagai hak asasi manusia generasi mendatang) yang pada gilirannya dapat memperkuat akhlak dan memperkuat kebersamaan yang sehat. Tanpa kesadaran hukum dan HAM cenderung terjadi penindasan atau penepian (marginalisasi) kelompok masyarakat yang lemah.

Pandu Budaya?
Mengenai pokok persoalan kedua, peran apa yang perlu dan dapat dijalankan GTM, secara singkat hendak saya bahas sebagai pengantar untuk diskusi kelompok. Ada baiknya GTM menyadari betapa besar tanggungjawab yang dibebankan Tuhan menghadapi masalah-masalah itu. Namun bersama dengan itu juga GTM perlu menyadari betapa besar potensi yang diberikan Tuhan. GTM sebuah gereja yang besar jumlah warga dan bilangan jemaatnya dalam susunan struktur dan kelembagaan yang relatif kokoh, tersebar di pedesaan dan juga di perkotaan, hadir dalam suatu kantong wilayah Kristen, berakar dalam suatu masyarakat yang relatif sama tradisi dan perkembangannya, dan terjalin dalam hubungan kerjasama ekumenis regional maupun global, serta adanya hubungan-hubungan baik dengan pemerintah. Dengan semua potensi itu terpulang kepada seluruh jajaran GTM untuk mengelolanya bagi pelaksanaan panggilan pelayanannya. Dan pengelolaan potensi itu jelas perlu diarahkan pada peran GTM mendampingi dan memberdayakan masyarakat Toraja Barat, khususnya dalam menjawab ketiga tantangan yang diuraikan di atas.

Dengan kata lain, GTM perlu mengambil peran yang dalam Gereja Toraja diistilahkan "pandu budaya". Di bidang pendidikan, misalnya, jika GTM belum siap menyelenggarakan sekolah-sekolah Kristen (harap maklum saya lulusan SD dan SMP Kondo Sapata Makassar!) mengapa tidak mempersiapkan guru-guru yang bermutu dengan memberi beasiswa pendidikan guru kepada pemuda-pemudi yang berbakat. Dalam rekonstruksi dan transformasi sosial, peran para pendeta dan pejabat-pejabat gereja lainnya sebagai tokoh-tokoh masyarakat setempat sangat besar.

Kendalanya, mungkin terletak pada orientasi pelayanan gereja yang masih berpusat pada ritual / peribadahan. Mungkin pula pada kecenderungan eksklusif untuk bekerja dalam garis prinsip dari gereja - oleh gereja - untuk gereja. Kemitraan sudah harus dikembangkan dengan berbagai potensi dalam masyarakat, juga di luar gereja, untuk bersama-sama membangun masa depan bersama.

Kiranya terjawablah puncak persoalan kita: kesiapan apa yang perlu dikembangkan (para pendeta / pelayan) GTM untuk menjalankan perannya? Jawabannya adalah visi dan komitmen. Para pelayan GTM perlu menyamakan visi, yakni harapan apa yang dicita-citakan bersama bagi seluruh masyarakat, dan bertekad mengabdikan diri dalam kebersamaan untuk mewujudkannya dalam pelayanan masing-masing. Ini makna judul puitis presentasi ini yang disitir dari sejarah masyarakat Toraja.

Pokok-pokok pertanyaan untuk diskusi kelompok:
1. Apakah pemahaman mengenai panggilan sosial gereja yang diajukan dalam ceramah ini cocok dengan kenyataan pelayanan dalam jemaat-jemaat GTM? Apakah pemahaman ini dapat diterima sebagai sesuai dengan Firman Tuhan?

2. Apakah saudara-saudara melihat pokok-pokok persoalan lain yang juga sama atau lebih urgen diprioritaskan dalam panggilan sosial GTM? Pokok-pokok manakah itu?

3. Kelemahan-kelemahan atau kendala-kendala apa yang dihadapi GTM (baik pada aras sinode maupun jemaat) untuk menjalankan panggilan itu? Apakah struktur organisasi dan pelembagaan pelayanan yang ada cukup relevan mendukung GTM melaksanakan panggilan sosial gereja?

3. Apakah para pendeta (dan pelayan gereja lainnya) telah dipersiapkan (melalui penataran, seminar, PA, dsb) untuk menjalankan peran itu? Pembekalan apakah yang perlu diprioritaskan untuk memberdayakan para pelayan menjalankan tugas-tugas itu?

* * *
Disampaikan pada Pertemuan Pendeta GEREJA TORAJA MAMASA
di Mamasa, 15 September 2000

(www.oaseonline.org/artikel/gtm2000.htm), ( mamasa-online.blogspot.com )

Susunan Panitia Sidang Raya XV PGI di Mamasa


PANITIA PELAKSANA
SIDANG RAYA XV PGI TAHUN 2009
DI MAMASA SULAWESI BARAT

Pelindung:
Gubernur Sulawesi Barat
Ketua DPRD Propinsi Sulawesi Barat
Bupati Mamasa
Ketua DPRD Kabupaten Mamasa
Kakanwil Departemen Agama Sulawesi Barat
Kapolres Mamasa
Dandim 402 Polman
Kajari Polman
Ketua Pengadilan Negeri Polewali
Kakandep Agama Kabupaten Mamasa

Penanggungjawab:
MPH PGI
PGIW Sulselbara
Badan Pekerja Sinode Gereja Toraja Mamasa

Penasehat:
Drs. Obednego Depparinding
Amos Pabundu
Mac Paotonan, SE
Ir. Phylipus Paulilin
Pdt. M.S. Matasak, M.Th
Pdt. Zakaria Sude, M.Th
Pdt.Y. Buttu Langi, S.Th
Pdt. Adam Doda, S.Th
Pdt. Paulus Bosong, M.Th
Pdt. Marthen Manggeng, M.Th
Pdt. Yusuf Tupalangi, S.Th
Pdt. Calvin Kalambo, S.Th
Pdt. Dr. Yusuf Mangumban, M.Th
Pdt. Simon Kena Sepadang, S.Th
Pdt. Dr. Robert Borrong
Pdt. S. Pamilangan
Pdt. Demmatande
Pdt. Djamaluddin
Pdt. Panglo
Drs. Germani Arung Jani
Consthathinus Claver PM
Drs. Buttu Sarira
Agustinus Lesseng, S.PAK
Yohannes Karatong, SH
H. Musthapa, BA
Drs. Ramlan Badawi
Yusuf Tumo’
Benyamin Pabundu, SH
D. Demmatayan
Ibu Yuliana Mangoli
Mayor Pol. (Purn) D. Lullulangi’
Benteng Toding
Daud P.
Ir. Arie Z. Panno
Dr. Paulus Uppun, MA
Ir. Yonathan Paulillin
Drs. Berard Buntutiboyong
Drs. Ahus Buntuma’dika
Drs. H.M. Thahir Paro
Benny Bashun
H.M. Said
Abdul Djalil
Abdul Rajab
Daniel Gandang
Drs. Semuel Buntugayang
Drs. P. Tarupay
Edy Muliono Paulillin, SE
Drs. Benyamin YD, M.Pd
Mathen Deppa, S.Son
Ir. Azaria Paulillin
Daenmaempa
Herman Lullulangi, SH

Pelaksana:
Ketua Umum : Victor Paotonan, S.Sos
Ketua I : Ir. Christina Tandipuang, MP
Ketua II : Drs. Harnal Edison, MA
Ketua III : Drs. Salmon Tangalangi’
Ketua IV : Ir .Daniel P. Madika
Ketua V : Ir. Yehuda, MM
Ketua VI : Yohanis Buttulangi’, S.Pd
Ketua VII : Drs. Yusuf P. Pangloli

Sekretaris Umum : Muspida Mndadung, SE
Sekretaris I : Andarias Bandangan
Sekretaris II : Ir. Daniel Pundu
Sekretaris III : dr. Neksriana Ambaraham Deppa
Sekretaris IV : Joni Mesanglangi, ST
Sekretaris V : Aristarchus Palumean, S.PAK
Sekretaris VI : Mathius Tiranda
Sekretaris VII : Yusak Nolelolang

Bendahara Umum : Hapri Demmalima, S.Sos
Bendahara I : Bongga Parakka, SE
Bendahara II : Ludia
Bendahara III : Selsil Naftali
Bendahara IV : Trifani Laxmi Karla, SE

Seksi-seksi:
Seksi Acara/persidangan/Ibadah:
Drs. Lagaligo Makatona, M.Si (Koord)
Labora Tandipuang, S.Sos
Drs. Mathindas, MS
Pdt. Sensus Tamangkoa, S.Th
Yupiter
Rihardes Bonggalotong, S.Th
Pdt. Semuel, S.Th
Pdt. Cory Pakondo, S.Th
Pdt. Demmamusu, S.Th
Pdt. D.P. Ma’dika, S.Th
Pdt. Erni Marike, S.Th
Pdt. Murni Mega Tarupay, S.Th
Festiniwaty Paotonan, S.Th
Barsalina, S.Pd
Salmiati, S.Si
BPC GMKI Mamasa

Seksi Hiburan/Pangelaran/seni budaya:
Drs. Arruan Pasau (Koord).
Demmaroa, BA
Herson Lullunlangi, S.Pt
Abd. Rahman Jalin
Reinhard Tupalangi, S.Pd
Patompo
Samuel Paotonan, SE

Seksi Humas/protokuler:
Nikolaus Bokky, SH (Koord)
Benyamin Taya, SE
Ely Sambominanga, SH
Drs. Marthen
Timotius Tiboyong
Dra. Silvia Daud
Darman Ardi
Andi Waris
Urias Daud, S.Sos
Jupri Sambomadika, SE

Seksi perlengkapan/kebersihan/penyiraman:
Drs. Abraham Deppa (Koord)
Puabonga, S.Pd
Nicolas Sirina, SE
Drs. Welem D.P.
Drs. Nehru
Frans Kila, S.Pd
Ricky Nelson Silalahi
Drs. Hein Buntukaraeng
Basri
Daniel Sarrin
Demmalele
Obed Solon
Zeth Rumbi
Monggo’
Wahyuni Tupalangi
Arniaty
Marthina Mangoli

Seksi Akomodasi/tempat persidangan:
Agustinus Bonggalolong (Koord)
Ibrahim Paotonan
Aner Paulillin
Roberth Pailo
Chriatian Pattinasarany, ST
Peliphus, S.Pd
Zul christian
Dominggus
Jhondewey

Seksi transportasi:
Drs. Arianus Mandadung (Koord)
Drs. Hendrik Sumampouw
Demmatannun
Ely Palasa
Anna Trisnawaty Tupalangi
Marthen Solon

Seksi Dokumentasi:
Yesaya Albert, S.Pd., MM (koord)
Benyamin Sonda, S.Pd
Melanthon
Timotius Kaloli

Seksi Usaha Dana:
Drs. Lonny Mallu, M.Si (Koord)
Rapa, S.Pd
Lonni
Drs. Sambolangi Pundu
Yosep Sambokaraeng
Welly Abriant
Magdalena, S.Pd
Nicodemus Tadu’
Drs. Abner S. Bato

Sekretariat:
Joni Daniel, S.Pd (Koord)
Yunus Mandadung, S.Si
Arvin Ital Putra, S.Sos
Zakaria
Efraim Daen Mallosa
Reynold Asnan, A.Ma
Besra M. Salamangi, S.Sos
Satriana
Sri Astuti
Marturanus Mattilang, A.Md
Demmalora
Marzuki
Bernesi

Seksi keamanan:
Kompol Priswo Pramuko (Koord).
AKP Yustinus Mangape
Drs. Kain Lotong Sembe
Leo Paemba
Agus
Tibo
Yan Perris
Ujang

Seksi Kesehatan:
dr. Nikolas Pulio (Koord)
dr. Hagai S. Tanga, M.Kes
dr. Yusran Bonggalotong
dr. Adam Baso Pata
dr. Michael
Yusuf Paulillin
Oktavina Tarupay
Sartje Bonggasilomba

Seksi Konsumsi:
Drs. Agussalin (Koord)
Amos Pampangbone, SKM
Daenlolo
Ny. Damita Y. Paulillin
Ny. Sugiati H. Demalima
Ny. Kirana Mandadung
Ny. Hermina Bonggalotong
Ny. Nuraeni
Ny. Jamila Rahman
Ny. Suryani
Hrsty Nurani Paulillin
Ismail, SKM

Seksi Pandu Sidang:
Yafeth Sambokaraeng, SE (Koord)
Pdt. Abner, S.Th
Yuliana Panna
Deviyanti
Sulfiani
Abriani Bandolan
Cladis
Senat Mahasiswa STT Mamasa

Tim Konsolidasi:
Pertemuan Raya Pemuda Gereja:
Joni Mesalangi, S.Th
Andarias Bandangan
Pdt. Nanius B. Tato, S.Th
Piliphus Maeri
Pdt. Yakob

Pertemuan Raya Wanita Gereja:
Ny. Sofia Matasak
Pdt. Yulianan Allo, S.Th
Ny. Yohana V. Paotonan
Ny. Yulianan R. Pailo
Ny. Z. Rumambi
( mamasa-online.blogspot.com )

Belum ada kepastian kehadiran Presiden SBY pada Pembukaan SR PGI di Mamasa

Kehadiran Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada Sidang Raya (SR) XV Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia di Mamasa, Sulaweis Barat (18-24/11) belum dapat dipastikan. Hal tersebut dikemukakan Sekretaris Umum PGI Pdt DR Richard Daulay (11/11).

“Berapa kali penyelenggaraan SR selalu dihadiri Presiden RI. Namun untuk SR XV panitia hingga saat ini belum mendapat kepastian,” kata Daulay.

Menurut Daulay, dipilihnya Mamasa sebagai lokasi persidangan merupakan mandate dari keputusan SR sebelumnya di Kinasih, Sukabumi, lima tahun yang lalu. Pemerintah daerah dalam hal ini gubernur Sulawesi Barat dan Gereja Toraja Mamasa (GTM) bekerja begitu erat untuk menyukseskannya.

Agenda utama SR XV meliputi pembahasan laporan kerja Majelis Pekerja Harian (MPH) 2004-2009, penetapan dokumen keesaan gereja (DKG) atau pokok tugas panggilan bersama (PTPB), penetapan amandemen Tata Dasar/Tata Rumah Tangga serta memilih MPH lima tahun ke depan.

Selain itu juga akan dibahas isu lain berupa, gereja dan tantangan pendemi HIV dan AIDS, Gereja dan pancasila sebagai Ideologi, Gereja dan Pendidikan, serta Arah Peruabhan Gereja-gereja di Indonesia. SR juga diisi oleh kegiatan Pemahaan Alkitab, kotbah danpenyegaran iman,” jelasnya.

Tema SR yang telah ditetapkan adalah Tuhan Itu Baik bagi semua orang (Mzm. 145:9a).
Sebagaimana biasaya, sebelum pelaksanaan SR dilakukan serangkaian pertemuan. Seperti pertemuan raya perempuan gereja (PRPrG) di desa Nosu, Mamasa (12-16/11) dan peetemuan pemuda gereja (PRPG) di Sumarorong, Mamasa (12-16/11).
(www.ebahana.com)

Peserta PRPG Sesalkan Menegpora tak Datang

MAMASA - Pemuda gereja se-Indonesia mengikuti pertemuan raya pemuda gereja (PRPG) prasidang raya XV Persekutuan Gereja Indonesia (PGI) di Sumarorong, Kabupaten Mamasa, akhir pekan lalu. Pada acara pembukaan di Lapangan Sepakbola Sumarorong, sebagian peserta dari beberapa provinsi melakukan aksi walk out dari arena.

Mereka protes ketidakhadiran Menegpora Andi Alifian Mallarangan. Deputi Menegpora Bidang Kepeloporan Pemuda, Dr Budi Mulyawan, MM mengatakan, kemajemukan bangsa Indonesia, termasuk pemuda sebagai komponen bangsa merupakan penunjang mewujudkan kemajuan.

Karena itu, hendaknya terus dipelihara dalam melakukan berbagai upaya untuk kepentingan masyarakat dan bangsa. "Mari kita pelihara kemajemukan. Kamajemukan merupakan kekayaan dan perekat yang akan membuat kita maju," katanya.

Dia berharap pemuda gereja terus berusaha bersama elemen pemuda lain, menggerakan semangat dan partisipasi masyarakat dalam pembangunan. Pemuda harus mampu melakukan kegiatan yang menyentuh masyarakat. "Pemuda hendaknya menunjukan kemampuan melakukan perbaikan dan penyelesaian permasalahan dalam bentuk implementasi. Bukan sekadar wacana," ujar Budi Mulyawan.

Ketua Umum PGI, Pdt Andreas Joewangoe, sependapat dengan Deputi Menegpora bahwa bukan saatnya hanya berwacana. Yang lebih penting, impelentasi. Pemuda lanjutnya, mempunyai peranan sangat penting dalam mengatasi berbagai masalah bangsa.

Dengan demikian pemuda harus punya mimpi, bagaimana mengatasi dan menyelesaikan persoalan bangsa. Untuk itu, pemuda gereja harus juga memiliki kepekaan dan kemampuan membaca fenomena kebutuhan masyarakat.

Pembukaan pertemuan pemuda gereja, diawali laporan ketua penyelenggara, Daniel Gandang dan sambutan Bupati Mamasa, Obednego Depparinding. Sebanyak 684 dari 1.000-an peserta menghadiri pembukaan yang sebelumnya menyatakan akan hadir.

Pembukaan dilakukan ketua umum PGI, Pdt Anres. Hadir Kapala Dinas Pariwisata, Pemuda dan Olahara Sulbar, Ismail Zaenuddin mewakili Gubernur Sulbar, Bupati Polman, Ali Baal, para pejabat dan undangan lainnya.

Peserta yang memprotes ketidakhadiran Menegpora, antara lain dari Maluku dan Papua. Mereka mengaku sangat kecewa karena pertemuan mempunyai makna yang penting dalam pembinaan kepemudaan.

"Kami sangat kecewa karena kehadiran menteri diwakilkan. Kita mau bertemua dan berdialog dengan menteri," ujar mereka. Daniel Gandang mengaku sejak awal telah mengajukan permohonan ke Menegpora untuk membuka acara, dan sudah menjanjikan akan datang ke Sumarorong.

Pembukaan mulur sekira dua jam dari jadwal yang diagendakan pukul 10.00 Wita dengan alasan menunggu Gubernur Sulbar, Anwar Adnan Saleh. Gubernur tiba di Sumarorong, sekira sepuluh nenit setelah acara pembukaan berakhir. Pertemuan pemuda gereja, merupakan bagian dari sidang raya PGI XV di Mamasa, 17-24 November

Rp 3.6 Miliar untuk perhelatan SR PGI di Mamasa

MAMASA -- Persiapan sidang raya XV Persekutuan Gereja se-Indonesia (PGI) di Mamasa dari 17 November sampai 22 November memasuki tahap akhir. Perhelatan itu ditaksir menghabiskan biaya sekira Rp 3,6 miliar lebih.

Rencananya acara itu diikuti 3.000-an orang yang terdiri atas utusan gereja se-Indonesia dan beberapa negara sahabat. Panitia berharap pembukaan sidang juga dilakukan Presiden Indonesia, SBY.

Ketua Umum Penyelenggara, Viktor Paotonan, menjelaskan, sidang raya merupakan perhelatan tiga tahunan PGI, khususnya yang terhimpun dalam persekutuan Gereja Toraja Mamasa (GTM). Jemaat GTM yang tersebar di seluruh Indonesia melalui utusan masing-masing bertemu dalam forum sidang raya untuk membicarakan berbagai hal,

seperti pembinaan sumberdaya manusia dan peran gereja dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. "Sidang raya akan membahas berbagai hal terkait peranan gereja dalam kehidupan berbangsa dan bernegara," jelas Viktor di sela-sela pertemuan raya pemuda gereja pra sidang raya XV PGI di Sumarorong, seperti dilaporkan kontributor Fajar, M Danial, Senin 16 November.

Mantan Wakil Bupati Mamasa itu mengatakan, anggaran Rp 3,6 miliar diperoleh dari bantuan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Mamasa sebesar Rp 2 miliar, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sulbar, Rp 500 juta, dari jemaat GTM Rp 450 juta, dan usaha panitia Rp 650 juta.

Sidang raya PGI, merupakan puncak dari rangkaian kegiatan pertemuan raya perempuan gereja (PRPrG) dari 11 November sampai 14 November di Nosu dan pertemuan raya pemuda gereja (PRPG) dari 12-15 November di Sumarorong.

Sidang raya PGI tingkat nasional lanjutnya, maka acara pembukaan secara resmi diharap dilakukan presiden. Menurut Viktor, panitia telah menyampaikan permohonan ke presiden melalui sekretariat negara, sejak beberapa waktu lalu.

"Kita sangat berharap, Presiden SBY berkenan hadir membuka sidang raya PGI. Sampai sekarang, kami masih menunggu konfirmasi sekretariat negara. Setidaknya, pembukaan dilakukan pejabat setingkat menteri, mewakili presiden," tuturnya.

Kemudian tamu beberapa negara telah menyatakan kesediaannya hadir sebut Viktor, antara lain, Belanda, Amerika Serikat dan Swiss. Sidang raya dipusatkan di gedung GTM Centre Convension Hall, Mamasa. Kemudian peserta disiapkan akomodasi di hotel, penginapan, dan rumah penduduk dalam kota Mamasa dan sekitarnya.

Menurut Viktor, persiapan panitia untuk pelaksanaan Sidang Raya sudah tidak ada masalah. "Mamasa dipilih sebagai tempat penyelenggaraan sidang raya XV PGI untuk menunjukkan Mamasa bisa menggelar agenda nasional. Mamasa mempunyai potensi yang tidak perlu diragukan lagi ( Fajar online 19/11/2009 )